Skip to main content

Posts

Teringat Ibu

Sembilan tahun ini. Rumah terasa sepi. Pagi-pagi, tanpa sarapan pagi. Semua sibuk mengurus diri sendiri. Sembilan tahun ini. Telepon genggam sunyi. Omelan tiada lagi. "Sudahilah main game itu ii". Ayo mengaji. Sembilan tahun kali ini. Lebaran sunyi kembali. Mungkin tidak sholat ied lagi. Sembilan tahun ini. Ibu tidak rasakan sakit lagi. Tidak perlu hadapi dunia ini. Tenang di sana ibuku, sayangku . Malam ini aku rindu, Ibu. Sangat Rindu.

Moving On

Dingin. Diiringi playlist sendu dan merdu, sambil melihat kerlap kerlip lampu di kaki Gunung Marapi. Sudah lama saya tidak merasakan hal seperti ini. Kerinduan akan perjalanan sedikit terbayar. Duduk sambil melihat dibalik kacamata berembun, membuat saya mengingat masa lalu. Perjalanan yang kami lakukan bersama, melintasi jalanan curam dicampur kecemasan. Melewati jalan sempit berkelok-kelok. Seperti hubungan kami yang saat itu masih berkelok-kelok entah mau dibawa kemana, sampai akhirnya jadi sesuatu yang hilang maknanya, menyatu diantara kabut gunung. Still everyday I think about you  I know for a fact that’s not your problem  But if you change your mind you’ll find me hanging on to the place  Where the big blue sky collapse Mari mengubur semua yang sudah selesai, semua amarah dan kecewa.

Kapan Nikah ?

Kapan Nikah? Pertanyaan semacam itu belakangan ini kerap menabrak saya. Entah mengapa, di usia yang masih belia ini, orang-orang menanyakan hal tersebut. Demi tidak memperpanjang introgasi, saya hanya menjawab "Hilalnya belum kelihatan". Bagi saya, menikah itu bukan karena temanmu sudah menikah, lalu kamu harus menikah, menikah bukan untuk ikut-ikutan. Menikah itu, dua orang harus memiliki komitmen satu sama lain. Mereka harus saling berbagi rasa dan asa. Saat ini, menikah bagi saya belum menjadi prioritas utama. Saya sempat berpikir untuk hidup sendiri, menikmati diri sendiri dengan melakukan hal yang disukai. Namun, saya tidak bisa menolak virus merah jambu menyerang perasaan saya. Kalau dipikir-pikir, masih banyak yang harus saya lakukan sebelum memutuskan untuk membagi waktu dan hidup untuk orang lain. Intinya, saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Bukan berarti saya tidak mau menikah. Karena menikah bukan semudah melihat Kotaru Minami berubah menjadi satria ba...

Oh, God

Perjalanan dari Pekanbaru menuju Pangkalan Kerinci kali ini, m embuat saya banyak berpikir, sampai-sampai saya tidur di bus hanya sebentar. Biasanya saat bus baru saja berjalan, saya sudah mulai tak sadarkan diri. Banyak hal yang saya takutkan. Banyak hal yang saya cemaskan. Dan hal ini ingin saya keep sendiri dulu. Ditengah jalan, lampu padam, pendingin ruangan menyala begitu kencang sehingga bulu kaki saya seperti berdiri. Pasalnya, saya memakai celana pendek. Saya masih berpikir banyak hal. Saya percaya Tuhan sudah menggariskan hidup makhluknya, rizki, jodoh dan kematian sudah tertulis sebelum kita dilahirkan ke dunia. Lantas, mengapa saya mesti mencemaskan hal-hal yang saya pikirkan?. Kemudian, belakangan jadi orang yang mudah tersinggung. Hal yang menyakitkan memang membuat saya lebih banyak berpikir.

Orang Mah Tahu Luarnya Aja

"Hidup dia enak ya," Kata yang acapkali kita keluarkan dari mulut kita. Padahal, kita belum tahu bagaimana mereka itu menjalani hidup. Orang mah tahu luarnya aja. "Kapan Nikah?" "Kan udah kerja?" Pertanyaan yang kerap ditujukan kepada mereka yang lahir di tahun 1990 sampai 1994 saat ini. Termasuk saya. Intinya mungkin belum siap atau sedang mengejar tujuan lain. Bahkan, mungkin belum selesai dengan dirinya sendiri. Orang mah tahu luarnya saja. "Kan udah lulus, kapan kerja? Pertanyaan yang krusial yang ditujukan kepada lulusan baru. Sebenarnya bukan tidak ingin bekerja, tetapi belum dipertemukan. Masih berlanjut

Pilihan

Memilih pilihan dalam hidup susah-susah gampang. Apakah pilihan hidup yang saya pilih akan menunjukkan jalan keberhasila, kemenangan ataukah kegagalan.  Itu pulalah yang saya pikirkan ketika harus menyelesaikan skripsi. Pada semester enam, saya berniat untuk dalam waktu 3,5 tahun, karena saya ingin membuktikan kalau saya bisa . Terakhir, ketika saya meminta tanda tangan persetujuan skripsi kepada Dosen Pembimbing , saya disarankan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, saya diminta untuk meningkatkan skor toefl. Tetapi hal tersebut selalu saya tunda . Karena b elum  menjadi prioritas utama , saat ini. Setelah saya lulus dari jurusan Sosiologi Universitas Riau , saya bekerja sebagai jurnalis di salah satu media terbesar di Riau . Saya menggenapi cita-cita yang saya tulis dalam kolom pengisian pendaftaran wisuda tanpa sengaja. Sebelumnya, saya juga sempat dipanggil  dua media nasional . Namun, saya merasa setiap hal yang saya lakukan, perlu dukung...

Sampai di Pangkalan Kerinci

Baiklah. Mulai Minggu lalu, tepatnya tanggal 28 Februari 2015, saya telah resign dari Tribun Pekanbaru. Bersama Tribun saya banyak sekali mendapatkan berbagai pelajaran, menanyai orang, memahami sebuah hal, dan tidak lupa menulis. Banyak sekali. Pokoknya saya benar-benar banyak belajar. Mengapa saya resign? Hhhhm. Sedikit susah dituliskan. Tapi yang jelas, saya ingin mengembangkan karir dan kemampuan saya di perusahaan ini. Bukan saya tidak mengatakan Tribun Pekanbaru karir saya tidak berkembang, sekali lagi di Tribun Pekanbaru saya banyak belajar, mulai sedikit-sedikit menjadi orang yang tidak menutup diri dan bertemu orang-orang yang luar biasa. Tetapi memang, hidup ini pilihan dan di ridhoi oleh Allah dan orang tua. Saya ingin banyak belajar dan berkarir di tempat saya sekarang. Mulai besok saya akan bergabung dengan salah satu pemberi beasiswa saya dulu, lokasinya di Pangkalan Kerinci. Otomatis, saya harus stay di Pangkalan kerinci. Paling tidak seminggu sekali saya ke Pekanbar...