Skip to main content

Posts

Dari Coldplay Hingga Norwegian Wood

Kembali saya ingin menulis di blog saya yang tak seberapa ini. Saat ini saya sedang mendengarkan fix you nya Coldplay . Sudah lama saya tak mendengarkan band asal Inggris ini. Sebelum tidur yang saya dengarkan Ed Sheeran , The beatles , Glenn Fredly , dan dia haa. HAHAHAHAHAHAAA. Coldplay ini lagu-lagunya menenangkan. Mereka menyuguhkan musik yang easy listening, kalau nyanyi itu gak mesti teriak-teriak. Saya paling suka dengan The Scientist . Entah mengapa, merasuki jiwa. Mari tinggalkan coldplay, saya ingin bercerita tentang novel yang baru saya baca. Novel yang sudah lama saya ingin baca, Norwegian Wood karya penulis Jepang , Haruki Murakami . Judulnya sama dengan lagu The Beatles yang Norwegian Wood. Bagi saya, ceritanya agak sedikit vulgar , tapi cara Murakami menuliskannya keren abis. Ia menulis dengan detail. Tokoh yang biasa saja tapi apa yang dialami tokoh tersebut luar biasa. Sekali lagi, ceritanya sedikit vulgar. Ketika saya ke Gramedia , saya awalnya ingi...

Pusing

Saat ini ada satu hal yang membuat saya selalu berpikir. Saya punya banyak rencana tapi tak bisa mengeksekusinya dengan baik. Semua menjadi wacana. Saya sadar, apa yang saya rencanakan tersebut, jika saya bersungguh-sungguh saya bisa melakukan. Hanya saja, usaha saya untuk melakukannya nihil atau setengah-setengah. Beberapa hari belakangan, semua rencana itu bermunculan di kepala saya. Apakah saya bisa? Kapan akan saya lakukan? apakah saya mampu? Apakah ini benar-benar di hati saya? apakah apakah dan apakah selanjutnya sampai tak putus hadir dikepala saya yang tak seberapa ini, sampai-sampai saya susah untuk tidur. Banyak orang yang meyakinkan saya kalau saya bisa, tapi, saya sendiri belum yakin dengan apa yang dikatakan orang-orang ini. Saya takut gagal. Takut mengambil resiko, takut sekali. Sampai-sampaj sekarang saya kehabisan kata-kata...

What I feel ?

Tengah malam ini saya berpikir kembali tentang hidup. Apa yang sudah saya lakukan dan apa yang akan saya lakukan. Setiap waktu rencana saya berubah-ubah. Dari kecil hingga sekarang. Saat kecil saya hanya tahu kalau nilai saya harus bagus, harus juara. Agar saya bisa masuk ke sekolah favorit. Setelah berhasil masuk ke sekolah favorit, saya ingin jadi atlet, tetapi gagal karena fisik tak mendukung. Setelah itu saya tak tahu ingin jadi apa. Saat memilih jurusan kuliah, sayapun bingung, waktu itu, terbesit menjadi enginneer, sepertinya seru. Tapi pada kenyataannya, saya lulus di sosiologi. Target menyelesaikan kuliah secepatnya 3,5 tahun juga tercapai. Setelah lulus, saya ingin lanjut sekolah s-2, tapi pakai beasiswa. Tapi saya coba dulu melamar sebagai pekerja media. Dan sekarang saya bagian dari penyampai informasi. Semua hal yang saya capai sebelumnya buat saya bahagia, tak pernah tertekan, walaupun standar  semua nilai 7,5. Tak ada beban. Tetapi sekarang? i don't know. Belum a...

I hope All is Fine

Rencanaya saya akan tidur sebelum pukul 00.00. Tetapi sampai pukul 12.13 AM saya bahkan belum memejamkan mata. Sejak pukul 09.00 PM tadi saya hanya memainkan handphone, salah satu saya agar tak berpikir banyak. Hari ini sebenarnya mood saya sedang tidak bagus. Bawaannya malas. Bosan. Bahkan hari ini saya belajar dari pengalaman buruk saya. Saya belajar untuk bertanggung jawab diatas kaki sendiri, apa yang telah saya lakukan. Memang sangat sulit bagi saya, bahkan saya harus membuang-buang bensin dijalan. Saya bahkan tak bisa berbicara apa-apa. Pelajaran hidup ini membuat saya begitu cemas dan takut. So far so bad, oh my god, i hope all is fine, help me. Mungkin, dengan pengalaman buruk yang baru saja terjadi, saya belajar tentang tanggung jawab, ketelitian dan kedalaman serta tak lupa menjadi dewasa. Sekarang saya tidak tahu apa yang harus saya tulis. Saya hanya ingin memeluk guling dengan khusyuk, bangun segar, sarapan sehat, kerjaan besok lancar.

Bercerita Tentang Sepi

Dari tadi saya mengetik, kemudian menghapus, mengetik lagi, kemudian menghapus lagi. Yang saya tulis maksudnya cuma satu, tentang rasa sepi dalam diri manusia. Entah mengapa saya begitu susah menuliskannya. Sama seperti saya saat buang air besar kemarin. Susah dan butuh usaha keras. Maaf analogi saya sedikit jorok, itu sekarang yang ada dipikiran saya. oke here goes : Saya mengerti mengapa Tuhan menyusupkan rasa sepi ke dalam diri umatnya, ternyata untuk mendekatkan diri denganNya. Mungkin sebagian diantara kita termasuk saya, hanya mengingat Tuhan ketika kondisi jiwa atau mood kita sedang tidak baik. Misalnya, masalah yang sedang kita jalani terasa berat, sehingga mengakibatkan pikiran suram dan perasaan gelisah, tapi tidak basah. Walaupin kita mempunyai seseorang yang selalu ada buat kita, tetap tak bisa menghapus rasa resah dan gelisah yang ada dipikiran dan hati kita. Padahal kita sudah menceritakan apa yang kita rasakan, tapi itu tak cukup membuat kita lega. Bebeda, ketika ki...

Keep Positive

Sekarang saya berpikir tentang orang-orang yang selalu berpikiran positif pada setiap hal, orang-orang yang bahagia dengan apa yang ia lakukan, orang-orang yang tenang dan selalu bersabar menghadapi apapun. Saya pastikan, saya belum masuk dari tiga kategori tersebut. Jika saya bertemu dengan salah satu manusia dari kategori tersebut, saya selalu kagum. Mereka terlihat hidup tak ada beban, seperti selalu bersyukur. Hari- hari mereka terlihat enteng setiap hari, tertawa, tersenyum, tak sedikitpun wajah keriting terlihat di rait wajah mereka.Mereka jarang mengeluh, seperti tak ada beban yang ada dipundaknya. Saya selalu mendapatkan energi positif jika berbicara dengan orang-orang seperti ini, baik itu lansung atau sekedar melalui media sosial, saya merasa energi saya terisi kembali jika bercengkrama panjang dengan orang-orang ini. Sepertinya saya harus lebih banyak berpikir positif, santai saja tapi tetap fokus. Bicarakan hal-hal yang baik dan selalu berprasangka baik. Karena ketika k...

Tentang Beasiswa

Memang sejak semester lima saya berpikir untuk sekolah lagi setelah lulus S-1. Mengapa? entahlah. Waktu itu saya mulai tertarik dengan yang namanya sosiologi. Saya mulai baca-baca bukunya dengan serius, berbicara manusia yang sudah terlalu mainstream bersama teman-teman saya di labsos saat kuliah dulu adalah hal yang menyenangkan. Mendapatkan beasiswa itu adalah hal yang menyenangkan, tetapi juga setiap semester dipusingkan dengan target IP yang bikin saya sempat panik kalau saja IP saya tak lebih dari 3.25. Tapi Alhamdulillah sampai lulus bahkan beasiswa saya untuk satu semester saya buaaaaang, hahahahaha. Maaf bukannya sombong, tapi mungkin sedikit pamer, sesekali, biar orang pada dengki. Sederhana. Setelah lulus, saya sempat mencoba apply beasiswa S-2, tetapi gagal, setelah melihat skor toeflnya. Skor toefl saya masih belum mencukupi. Saya ingin bercerita sedikit tentang seorang temannya teman saya, ternyata saya juga kenal karena dia anak murid guru les saya dulu, Ibu Herlina. M...