Skip to main content

Posts

Jaman Apa Ini

Beberapa hari berlalu dengan kurang menyenangkan, kurang mengenakkan. Saya masih dalam fase-fase mencari, terus mencari dan mencari apa-apa yang dituntut. Dari mencari, sebagian ada hasil, sebagian tidak. Saya hanya saja menganggap bahwa saya mendapatkan hal-hal yang tidak adil. Merasa sudah berlari tetapi kenyataannya masih lari ditempat. Di luar sana dituntut untuk menjadi macam-macam, bekerja, sukses, kaya, mapan, punya keluarga yang sakinah, membesarkan anak-anak soleh, membeli mobil (kalau bisa dua), liburan ke luar negeri, dan mengikuti perkembangan jaman beserta gadget-gadgetnya. Semua itu melahirkan pusing di kepala tentang harus menjadi ini dan itu, baiknya punya abc sampai xyz. Dan di luar sana, diharus mempunyai mimpi-mimpi besar raksasa, mewujudkan dengan pantang menyerah seperti Oprah. Pokoknya kita harus punya mimpi besar, seperti tak ada tempat untuk orang yang tak punya ambisi besar. Sampai saya bertanya-tanya sebenarnya jaman apa yang sedang saya hidupi ini.

Beribadah

Entah apa yang saya pikirkan sekarang sehingga saya membuka blog saya untuk menulis sesuatu, apapun. Saya sedang dalam kondisi sedang tidak dekat dengan Tuhan, tidak seperti apa yang dulu saya lakukan. Saya menjadi sering abai dengan beribadah. Sebagai muslim, saya sering meninggalkan Sholat dan mengaji. Kebanyakan manusia, termasuk saya, sering menyalahkan setan dalam hal ini, setan terlalu menggoda saya.  Saya begitu malas untuk mengerjakan kewajiban saya sebagai muslim, padahal saya tahu sholat itu tiang agama, pondasi dari segala amal ibadah saya di dunia, tetapi saya masih tidak melakukannya. Apa saya tidak takut masuk neraka? Saya masih takut masuk neraka. Saya masih ingat perkataan seseorang kalau sholat itu melindungi kita dari perbuatan keji dan munkar, ritual untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Tetapi saya merasa sangat malas untuk melakukannya akhir-akhir ini. Tetapi saya sering membaca buku agama, mendengar ceramah, berdzikir. Tetapi untuk sholat saya merasa sa...

Ini - Itu - Mereka - Kita

Kali ini saya merasa dalam keadaan yang kurang beruntung... dalam segi hal pekerjaan. Sebutlah saya sudah menganggur sejak februari 2014 ini. Beberapa pekerjaan ada yang menolak dan ada yang menolak saya. Saya ditolak mungkin tidak sesuai dengan kualifikasi perusahaan tersebut, dan yang saya tolak karena bekerja di luar kota. Tapi Alhamdulillah beberapa rupiah walaupun tidak banyak, masih mengalir ke dompet saya. Memang, saya tidak diberi izin oleh keluarga saya untuk keluar kota, karena berbagai macam pertimbangan. Saya sering dibilang bodoh atau suka buang-buang kesempatan, tapi tidak itu yang saya pikir, saya tidak ingin bekerja yang tidak di beri izin oleh Bapak saya, karena izin orangtua itu sangat berarti untuk saya, ya terserah buat orang-orang yang selalu bilang saya buang-buang kesempatan. Setidaknya saya tidak membuang-buang hari-hari saya dengan Bapak saya, saya bisa melihatnya setiap hari di usia tua beliau, bertemu beliau setiap hari atau pergi ke suatu tempat b...

Hutan Taman Nasional Tesso Nilo

 Ketika bongkar-bongkar file video, saya menemukan video diatas. Satu kata "berkesan". Ada yang menarik dari sebuah perjalanan dan mendatangi sebuah tempat dengan nama yang sebelumnya tidak pernah kita tahu, kita dengar,kita baca. Pertama, sebagai makhluk, manusia senantiasa ingin menjadi berbeda meskipun dalam kenyataannya masih ada persamaan. Kedua, perasaan pada akhirnya memberikan gairah yang lebih membebaskan diri dari kehidupan yang lurus-lurus saja.  Ada yang lebih dalam dari itu. Tahun lalu saya mendatangi sebuah tempat bernama   Hutan Taman Nasional Tesso Nilo , selain untuk kepentingan kuliah, saya juga ingin melakukan wisata yang biasanya saya sebut perjalanan yang sangat singkat untuk meringkankan pikiran yang berbau akademis. Sebuah lokasi dalam peta yang terletak di Provinsi Riau , terbentang diempat kabupaten yaitu Pelalawan , Indragiri Hulu , Kuantan Singingi dan Kampar . Hutan Taman Nasional Tesso Nilo menurut dosen saya adalah salah sat...

Ulang Tahun

Saya lupa kapan terakhir kali merasa bahagia saat ulang tahun, benar-benar bahagia. Bahkan kali ini, saya lupa ulang tahun saya, saya diingatkan ketika ada ucapan ulang tahun di ponsel saya, baru saya sadar “oh ternyata hari ini 14 juli”. Tapi tetap hari itu tak ada istimewanya, sama saja, tak ada bedanya. Bahagia memang, tapi tidak “sangat”. Dan saya punya alasan untuk itu. Karena setiap hari di ciptakan oleh Tuhan , tak peduli hari apapun, intinya sama. Dan jika ada yang bilang kalau tidak bersyukur ditambah satu tahun, itu salah, justru itu, saya setiap hari bersyukur dengan kehidupan saya, bahkan setiap detiknya saya syukuri. Saya berpikir, moment ulang tahun itu diciptakan oleh orang jaman dulu untuk berpesta, karena mereka tak tahu kapan berpesta, membuat sesuatu yang special,   untuk mendapatkan kado, jadi istilah ulang tahun ini mungkin digunakan, saya hanya berimajinasi.  Sebenarnya setiap hari itu pesta. Tapi ya tidak sepenuhnya, masih juga ada beb...

Pilpres Dan Media

Indonesia sebagai Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia , baru saja memilih presiden lansung yang ketiga kalinya di 9 Juli 2014 lalu.   Dalam sebulan ini, banyak hal-hal yang memalukan di negeri ini menjelang pemilihan presiden Indonesia ke 7 . Pilpres ini membuat masyarakat terpecah belah, apalagi jika kita melihat di media sosial, kalimat-kalimat yang tak semestinya dikeluarkan oleh setiap pendukung-pendukung capres, sopan santun tidak dibutuhkan lagi. Sebulan penuh mereka menuliskan, memberitakan, menginformasikan hal-hal negatif dari masing-masing capres yang mereka dapatkan dari media-media konvensional   yang sekarang tak lagi independen .  Mereka saling serang sesama pendukung masing-masing capres, menjadi fanatik ,  seperti sangat mencintai jagoan mereka masing-masing, merasa tahu tentang sejarah hidup capres masing-masing, padahal mereka hanya tahu dari suapan berita-berita media yang tak berimbang dan subyektif.   Bagus memang, ma...

Kesal

Kadang hidup selalu dicecoki oleh pertanyaan-pertanyaan dan kata-kata yang menyebalkan yang kadang kita tidak tahu jawabannya.   Mereka yang berada dalam keadaan beruntung, selalu melemparkan pertanyaan yang sama ketika mereka bertemu dengan orang yang kurang beruntung. Entah apa maksudnya, jikalau ia peduli, itu baik, kalau ingin pamer, mungkin perasaan yang bernama kesal dan iri mulai muncul. Entah mengapa perasaan negatif belakangan ini selalu mengahampiri, saya merasa ada yang salah pada diri sendiri belakangan ini. Mudah sekali merasa kesal dan sedih. Berbeda dengan diri yang dulu, melontarkan kata “peduli amat” setiap pertanyaan yang menyebalkan menghampiri, melontarkan tanpa memikirkannya, tanpa ada rasa beban. Entah mungkin banyak berpikir akan hal-hal akan dilakukan sekarang, menjadi apa di masa depan, cemas akan masa depan.  Saya teringat akan ucapan kakak saya, “sabar aja, semua itu akan datang, tapi kita tidak tahu kapan, jangan berhenti berusaha...