Skip to main content

Cara Mengatasi Ketidaknyamanan

Saya ingin menulis tentang ketidaknyamanan. Sumber ketidaknyaman itu beragam. Ketidaknyamanan membuat tidak ada dialog yang jujur sehingga semua tidak bisa berjalan baik. Terkadang sumber ketidaknyaman itu dari hal-hal yang sensitif dan pribadi. Beban pribadi dan profesional menumpuk, bisa jadi tidak nyaman.

Kebanyakan generasi muda sekarang menganut budaya mempermalukan orang lain di depan khalayak netizen atau paling tidak WA grup, dibandingkan dengan berbicara langsung kepada orang terkait. Lebih sulit lagi, bagi pemegang jabatan. Curhat di sosial media atau menegur dengan di sebuah WA grup itu juga tidak baik. Tuhan aja tidak broadcast kesalahan manusia.



Masalah lebih serius adalah tentang pengabaian, perasaan diabaikan. Saya pikir sebagai pemimpin pada level apapun, kita harus memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan sama untuk bersinar dan tumbuh. Terkadang ada favoritisme tak disengaja karena kenyaman bekerja dengan seseorang.

Tidak ada pelajaran yang bisa diambil jika seseorang dalam kondisi yang tidak nyaman atau stress. 

Tapi....

Kalau masih muda, coba banyak hal, ambil kesempatan, tertawai diri sendiri adalah hal yang terpenting. Jika ingin tahu sesuatu, cobalah, fokuslah pada tujuan. Ubah semua hal jadi menyenangkan karena pekerjaan bisa saja membosankan. Ubah itu menjadi hal yang berguna dan menyenangkan.

Memiliki pekerjaan yang 100 persen hebat dan menyenangkan jika seseorang bisa membuat semuanya jadi seru, produktif, dan berdampak. Artinya, kita punya jiwa bermain, minat tinggi, dan punya tujuan.

PS : Tulisan ini untuk mereka yang mengalami ketidaknyamanan. Semoga bisa bangkit dan jadi yang terbaik diantara yang terbaik.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...