Skip to main content

Setelah Melihat Foto Ridwan Kamil

Tulisan ini saya tulis ketika saya baru saja selesai berseluncur dengan mainan lama saya, instagram

Postingan  foto terakhir adalah akun Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil bersama si Cintanya, memakai baju merah berpose di jembatan dan di taman. Tidak lupa memakai payung, diduga ia berfoto saat hujan turun.

Kemauan saya untuk membuka instagram miliknya tak terbendung. Entah mengapa, ada semacam magnet yang membuat saya harus melihat-lihat koleksi foto-foto yang ada di akun tersebut.  Caption-caption yang ditulisnya kekinian sekali. Apa yang kerap menjadi bahan becandaan anak muda sekaligus mengingatkan anak muda untuk mencintai kota Bandung, kota yang saat ini ia pimpin.

Memang saya tidak pernah mengikuti perpolitikan di Bandung. Tapi apa yang di posting oleh Ridwan Kamil, adalah ajakan yang benar. Mencintai kota sendiri, menjaga lingkungan sendiri, dengan cara kekinian. Cara-cara yang anak muda sekali. Mungkin ini cara dia untuk mengubah pola pikir dari anak muda, karena yang tua agak susah diubah, terlalu banyak pakai slogan yang tanpa makna. Bahkan, dari media sosial, banyak yang mendukung Kang Emil, sapaan akrabnya untuk terus memimpin Bandung. 

Beberapa postingan juga ada yang kocak dan terlihat alay. Hehehe. Namun, apa yang dilakukannya adalah hal yang positif. Menghibur, mengajak untuk kebaikan, lebih mencintai Bandung. Cara yang berbeda dilakukan oleh banyak pemimpin di Indonesia.

Saya memang tidak tahu apa yang terjadi di sana, dari yang saya tahu, banyak orang yang bahkan bukan warga Bandung mencintai Bandung. Jika saya boleh berpendapat, Bandung adalah kota mode. Kota yang dapat dikatakan Gaul di Indonesia. Banyak karya kreatif yang dibuat anak muda disana. Dan Kang Emil, mendukung penuh. Opini saya ini diluar kebijakan yang dia buat, bukan semata-mata mendukung dia.

Instagram @ridwankamil

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Sekilas Sosiologi Kesehatan

Sosiolog belajar semuanya, termasuk tentang kesehatan. Tapi tentu dalam kacamata sosial. SAKIT dalam definisi medis adalah adanya gangguan secara biologis terhadap tubuh. Sedangkan secara sosiologis, sakit itu ketika kamu gak bisa jalanin peran dan fungsi secara optimal di masyarakat. Penyakit sekarang lebih bersifat degeneratif. Penyakit muncul karena kurangnya kesadaran akan pola hidup sehat (terbukti pada penelitian kami, sosiologi angkatan 2010 di Siak pada Juni 2012). Lima faktor gaya hidup yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas di Indonesia, seperti perilaku merokok, perilaku seks, pola makan, okupasi, dan yang terakhir mobilitas. Ada beberapa istilah dalam sosiologi kesehatan. Iatrogenesis Klinis. Penyakit klinis yang muncul dari sebuah penanganan medis, contohnya ketika jarum ketinggalan di ketiak pasien saat operasi.  Iatrogenesis Sosial. Penyakit sosial muncul dari sebuah penanganan medis, contohnya pasien hilang dirumah sakit.  Medikalis...

Pursue My Dream

Hari ini, saya menulis postingan pertama saya di tahun 2024. Akhir-akhir ini, saya merasakan sering kali malas untuk menulis, baik di blog maupun di catatan saya. Itu mungkin bisa disebut sebagai fase-fase malas. Ironisnya, saya sering merasakan kecemasan dan kekhawatiran yang tidak terlalu penting, tetapi mengganggu pikiran saya. Saat ini, saya duduk sendirian di sebuah tempat dengan laptop di depan saya. Awalnya, saya hanya berniat untuk bekerja dan mencari tahu tentang kisi-kisi ujian masuk S2. Ada beberapa tugas yang tertunda hari ini yang ingin saya selesaikan. Saya menikmati kesendirian ini, tanpa gangguan dari orang lain. Selain itu, saya ingin menyegarkan kembali pengetahuan saya untuk persiapan ujian masuk S2 besok. Karena ujian ini dilaksanakan secara online, saya sedang mencari informasi tentang bagaimana ujian tersebut akan berlangsung. Sebelumnya, saya sudah pernah mengikuti ujian S2 pada tahun 2020 di Universitas Indonesia, tetapi saya gagal karena kurangnya persiapan. Se...