Skip to main content

#MELAWANASAP

Sebelum aku mulai mengoceh, izinkan aku untuk membuka ocehan ini dengan

#MelawanAsap

#MelawanAsap

#MELAWANASAP

Hari ini aku bertemu orang baru lagi. Orang Jepang. Dia bersama perwakilan Jepang di Indonesia Kuniyasu dan Reporter namanya Soyama. Reporter Tokyo TV. Tidak bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia.

Lucu ketika ia memperkenalkan diri kepadaku. Lewat line. Sebelumnya, ia memintaku untuk menggoyang-goyangkan HP ku agar bisa terhubung satu dengan yang lain. Ternyata gagal. Akhirnya ia memberikan id linennya kepadaku sambil menunjukkan idnya dari HPnya. Aku menduga ia susah membaca huruf latin. Aku menuliskan namaku di room chat "i am sari". Kemudian ia membalas "i am Soyama". Sambil menunjukkan Profile Picturenya, ia memberikan isyarat itu anak saya. Lalu, saya menjawab dengan jempol sambil berkata "handsome boy".

Sekarang saya berpikir jika kabut asap ini sudah mendunia. Riau bukan lagi go nasional, tapi sudah go Internasional, akibat kabut asap.

Diluar isu-isu "Indonesia menjadi Tumbal bagi negara maju", Negara kita gagal. Tak bisa mengatasi kabut asap. Sudah beberapa kali saya bertemu reporter asing untuk liputan kabut asap ini. Apalah pemerintah tidak malu?. Aku mulai bosan mengeluh akibat asap.

Aku hanya membayangkan apakah bisa seluruh warga Pekanbaru ini turun ke jalan dan meninggalkan beberapa jam pekerjaannya hanya untuk menyuarakan kita murka. Warga menduduki kantor Gubernur dan menyampaikan orasinya, keluh kesahnya. Aku terbayang peristiwa 1998 lalu yang diputar di televisi-televisi.

Kalau boleh memilih, daripada kejatuhan bom atom, lebih baikturun ke jalan bersama-sama. Menyuarakan aspirasi. Biat kota lita tak ada aktivitas, aktivitas hanya da di jalan, #MELAWANASAP.

Semoga Tuhan Bersama Kita

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...