Skip to main content

Ini - Itu - Mereka - Kita


Kali ini saya merasa dalam keadaan yang kurang beruntung... dalam segi hal pekerjaan. Sebutlah saya sudah menganggur sejak februari 2014 ini. Beberapa pekerjaan ada yang menolak dan ada yang menolak saya. Saya ditolak mungkin tidak sesuai dengan kualifikasi perusahaan tersebut, dan yang saya tolak karena bekerja di luar kota. Tapi Alhamdulillah beberapa rupiah walaupun tidak banyak, masih mengalir ke dompet saya.


Memang, saya tidak diberi izin oleh keluarga saya untuk keluar kota, karena berbagai macam pertimbangan. Saya sering dibilang bodoh atau suka buang-buang kesempatan, tapi tidak itu yang saya pikir, saya tidak ingin bekerja yang tidak di beri izin oleh Bapak saya, karena izin orangtua itu sangat berarti untuk saya, ya terserah buat orang-orang yang selalu bilang saya buang-buang kesempatan. Setidaknya saya tidak membuang-buang hari-hari saya dengan Bapak saya, saya bisa melihatnya setiap hari di usia tua beliau, bertemu beliau setiap hari atau pergi ke suatu tempat bersama-sama. Selain keluarga, saya bisa merasakan keadaan keluarga yang benar-benar keluarga, dulu saya terlalu sibuk dengan dunia pertemanan yang membuat saya lupa banyak hal.

Ini sedikit berat karena dari dulu saya mendapatkan sesuatu dengan lancar, tidak di cemooh, Alhamdulillah mendapat pujian. Sekarang yang saya dapatkan setelah lulus ini lebih banyak cemoohan, menghina, menjatuhkan, atau hal yang tidak menyenangkan yang saya dapatkan. Buat apa lulus cepat ? mungkin saya pernah menulis beberapa bulan lalu mengapa lulus cepat, tapi saya ingin menuliskan alasan yang lebih mudah dicerna, saya lulus cepat karena tahun lalu, saat saya bilang "Ii kuliah 3,5 tahun bisa kok" saya mengucapkan itu dengan lantang karena orangtua saya berkata "heh, mana bisa 3,5 tahun kuliah kayak gitu". Memang orangtua saya selalu membuat anaknya maju dengan meremehkan. Alhamdulillah saya bisa buktikan, tepat 3,5 tahun. Ini alasan saya mengapa saya ingin cepat lulus. 

Sekarang saya berfikir, apa yang saya rasakan dan dapatkan di dunia ini seimbang, ada kalanya kita selalu mendapat hal-hal yang membahagiakan, dan ada juga yang kurang menyenangkan. Saya mengerti kalimat " dunia ini seimbang".

Dan saya juga merasakan kalau saya semakin lama semakin jauh dari Tuhan, saya sering lupa kewajiban saya sebagai seorang muslim. Kakak saya sering bilang " effort ada, tapi pray to god gak ada, mau tapi gak minta gimana caranya". Ini yang paling penting untuk saya tata ulang dalam hidup saya yang sekarang random sekali.

Sudah 2 tahun ini saya lebih banyak menutup diri dari orang-orang baru. Saya bosan dengan dunia haha hihi, orang-orang yang berkata baik tetapi akhirnya nusuk, ah sudahlah saya malas untuk menyalahkan siapapun, mengingat-ingat hal-hal yang lalu. Mungkin bukan dunia dan segala macam isinya yang salah, tetapi mungkin di saya-nya juga banyak kesalahan. "Terkadang dalam sepi kita bisa mendengar lebih jelas, dan dalam gelap kita bisa melihat lebih banyak."

Saya memang bukan seseorang yang bisa menyatakan lansung perasaan atau menunjukkan rasa sayang atau juga terima kasih saya ke orang-orang. Lewat tulisan ini, saya ingin menghaturkan terima kasih ke keluarga saya Abah,kakak-Abang yang selalu tidak memaksa saya harus bagaimana setelah lulus, tidak menekan saya walaupun masih seperti ini, orang-orang gila dan berotak vulgar selama hampir 4 tahun lebih menemani saya, Upik dan Mek, 2 makhluk ini adalah (teman baik) orang-orang yang berjasa saat saya merasa sepi,berkomentar semaunya tentang apa yang saya lakukan, saat butuh dikritik dan hinaan, saat saya "gila" karena tidak menemukan "dia", dengan mereka saya bisa melakukan atau memikirkan hal tak senonoh di kamar kos Nila, saya rindu. Dan yang terakhir, untuk dia yang jauh disana, dengan melihatnya saja hal-hal yang kurang menyenangkan dalam hidup saya tidak terasa. Untuk semuanya Terima kasih untuk tetap ada dan selalu ada...untuk selamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...