Skip to main content

Terlalu Banyak Menerima Pertolongan Orang

Kadang orang bisa semena-mena terhadap orang yang mereka tolong.

Kalimat diatas, banyak terjadi di kehidupan kita, termasuk di lingkungan saya. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, mahkluk yang tidak dapat hidup sendirian, butuh bantuan orang lain. Dan di kehidupan, kita tidak selalu dalam keadaan baik atau dalam posisi yang baik, kita bisa dalam posisi buruk. Untuk itu kita harus berjiwa sosial, membantu sesama.

Ketika seseorang dalam keadaan buruk dan butuh bantuan, sekiranya kita yang merasa memiliki keadaan baik bisa menolong orang yang sedang dalam keadaan buruk tersebut, baiknya tanpa pamrih, jika perlu. Manakala di lain hari, kita dalam keadaan buruk, kita bisa ditolong orang yang kita tolong tadi. Hidup akan terlihat indah jika seperti itu.

Kadang ada si penolong yang merasa dia sudah menjadi penolong seseorang, lalu bisa seenaknya terhadap orang yang ditolongnya. Jika si penerima pertolongan membela diri atau menolak, mereka akan mengeluarkan kalimat “Dasar orang yang tidak tahu diuntung, sudah ditolong tidak berterima kasih” gitu barang kali ya... seperti mereka tidak pamrih untuk menolong, padahal mereka tidak tahu apakah mereka sanggup atau tidak, mereka mampu atau tidak, sama saja ya kata-katanya, hehehe. Jika si penolong ini mempunyai hati yang baik dan merasa pamrih untuk menolong seseorang, mereka tidak akan mengeluarkan kalimat tersebut.

Seseorang bisa menjadi sesukanya karena dia merasa menjadi pahlawan dalam kehidupan seseorang. Terlalu banyak menerima pertolongan orang, seseorang menjadi lemah, tidak bisa bersuara, membela, bahkan menolak.....bagi sebagian orang.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...