Skip to main content

Kukerta ( PART IV )

Satu draft postingan gue hilang. Gue mencoba untuk menuliskannya kembali.

Oke,here goes.
Udah 23 hari aja kukerta berjalan, makin lama ngerasa dibunuh, dibunuh rasa bosan.
Belakangan ini juga susah tidur, kalau udah susah tidur, selalu aja ingatan tentang bagaimana pernah kecewa berat, bagaimana tidak berartinya datang. Sebelumnya, gue belum pernah postingin dan cerita. Karena gue kira perasaan ini bakalan hilang gitu aja. Ternyata gue butuh waktu yang cukup banyak.Memang waktu yang mungkin bisa nymebuhin luka.

Bagaimana gue kecewa berat saat orang yang udah dianggap lebih dari temen, bahkan apa yang dinamakan keluarga, ternyata bukan seperti apa yang gue anggap. Gue bahkan udah menganggap seperti rumah, dimana gue bisa berlindung,menerangi dan buat nyaman. Ternyata makin lama, gue ngelihat itu bullshit.
Gue pernah ngerasa paling lemah, ngerasa disudutin, dan itu sakit, bagaimana seseorang yang udah kita anggap sebagai.... ah gue  males ngominginnya,karena bagi gue sekarang, itu hanya simbol, tapi tidak ada maknanya.

Ada semacam perasaan takut untuk menganggap orang sebagai sahabat,sebagai teman dekat atau bahkan sebagai keluarga. Karena gue takut itu terulangi lagi.Gue belum bisa, belum mau ketemu sama tuh orang.
Yang dibutuhkan itu, cuma orang yang buat kita nyaman, gak masalahin status, penampilan, latar belakang kita. Tidak menuntut apa-apa, bisa ngobrolin apa aja, tidak memihak, berbicara tentang segala hal,mungkin tentang ikan paus dilaut, ngomongin masa depan bareng-bareng. Sungguh, itu bisa saja membuat semua lebih bersahaja.
Semoga gue bisa dipertemukan dan berkonspirasi dengan makhluk itu.ameeen

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...