Skip to main content

Kukerta (PART I)

Udah lama banget gak ngeblog, serasa jadi blogger murtad, udah pada bersarang laba-laba blog gue. Gue sedang berada di sebuah desa yang gak seberapa jauh dari kota tapi lumayan buat gue ngutuk-ngutuk karena jaringan internet disini lelet, walaupun udah pake provider mahal.

Oke, gue udah 10 hari KUKERTA alias kuliah kerja nyantai, nyantai banget, bisa main pes, nonton dvd, ngerumpi sama temen sekelompok. Dan hal yang bakal buat miris di bulan ini adalah gue ulang tahun yang ke 20, suram abis sepertinya, jauh dari hiruk pikuk kejutan, kado, ucapan, dan segala hal yang mengikuti ketika gue ulang tahun, gue bisa prediksikan itu.

Baru aja 10 hari disini gue  sebenernya belum bisa betah, ya gimana, baru pertama kali jauh dari rumah, kakak, abah, abang, dan segalanya yang biasanya hadir disetiap hari-hari gue. Disini kami berdua belas, lima cowok, 7 cewek. Sebelumnya belum pernah saling kenal kecuali @ainagisty temen SMP gue, @n_partawijaya alias nico, temen sekampus yang sering menampakkan diri sejak semester 6 kemaren, selebihnya belum pernah ketemu dan kenal.
Ini penampakan mereka yang terpilih untuk Kukerta di Koto Pangean 2013.
@n_partawijaya, obsesinya jadi artis papan surfing
 
@jumatrisusanto_, jangan mau tertipu sama mukanya
@ainagisty, hobinya nelpon, ini temen sekamar
 
susi, orang medan, banyak yang minta pijit sama susi
 
@poweramadhani, suka ketawa diakhir kalimat,dia juga temen sekamar
 
andika, dicurigai orang masa lalu, baca smsnya susah
 
suhen, pemuda setempat
 
putri, anak rumah sebelah

rahmi, selalu minta duit

sisi, pemudi setempat


hehehhe...hehehe..hehhe


sebenernya ada satu lagi tapi gak ada fotonya sama gue, namanya obi, kelakuannya, yaaaaaa, *menghela napas.

Ah udahlah, gue banyak belajar banget disini. Dan disini gue kembali percaya sama yang namanya " kita tidak bisa menilai seseorang sebelum kita melihat yang sebenarnya"  atau bahasa pepatah dari negara sono "don't judge the books it's by cover".  Memang, ketika kita bertemu dengan orang, orang akan menanggapi kelakuan kita sesuai dengan simbolisasi yang kita bangun, apa yang kita pakai dan lingkungan kita berada adalah sesuatu hal yang memberitahukan orang lain tentang siapa diri kita, walaupun hanya sementara. Tetapi, kita jangan selalu fokus pada pertemuan pertama aja, kita harus tahu gimana "backstage" orang. Kita jangan sampai menelan bulat-bulat apa yang dikatakan oleh orang lain, kita harus lihat sendiri karena itu bisa membuat penilaian tersendiri untuk kita.

Jadi, jangan percaya dulu apa kata orang.

Selamat Puasa.


Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...