Skip to main content

Terima Kasih Semester 5

Gue tadi malem udah isi KRS sekarang nambahin kelas bahasa Inggris, dan gue sekarang masih di tempat tidur dari bangun tadi.

Beberapa hari ini gerakan tubuh gue terbatas, soale gue kena HNP,  saraf terjepit, ada penekanan pada tulang belakang,Buat gerakan badan gue terbatas. Waktu gue terjatuh dulu dari kepeleset. Bahaya sob. Untuk itu gue kurangi aktivitas gue, terutama berolahraga sampai sehat.

Alhamdulillah IP gue naik, Gue percaya sama apa yang namanya kerja keras dan doa, semua bakalan sesuai dengan harapan. Kalau kita usaha maksimal hasilnya maksimal Dan juga tidak lupa gue masih terima beasiswa semester depan.
Terima Kasih Semester 5

Diliat dari nilai gue, gue sukses jadi orang kota hahahhaha. Ehhh tapi yang patologi nilai gue alhamdulillah bagus, itu mata kuliah penyakit sosial, gue bukan penyakit ya, bukan berpenyakit, bukan menyimpang, itu cuma mata kuliah saja. Gue tetap jadi manusia yang sesuai jalannya sebagai manusia.
Alhamduliillah banget walaupun ada c+ nya 1.

Sukses meratakan KRS malam ini gue ambil 11 sks yang 3 sks baru gue tambah siang ini.hehehe . Jadi 14 SKS.

bismillah semester 6
Sempat bingung ngisi KRS gue semster ini, soale ada mata kuliah yang di tambah soale ada yang udah dihapus, diwajibkan yang dulu jadi mata kuliah pilihan.
Disini kurangnya informasi yang diberikan kepada kami para mahasiswa. Ya sudahlah.

Bissmillah Semester 6 ! MANGAT !!

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...