Skip to main content

Bahagia itu sederhana

Udah lama banget gak nulis panjang di blog gue,karena kadang gue nulis di tumblr,hehehe
Gue udah rada gak kecewa lagi sama IP gue,IP gue naik,jadinya gue terbebas dari evaluasi Beasiswa gue,Alhamdulillah.Bisa buat bangga mereka,walikelas gue waktu kelas 3 dulu.Buk Syafridati.Beliau yang ngasih wejangan sewaktu gue kelas 3 sampai gue keterima di kampus gue sekarang.Bahagia itu sederhana,bisa ngebuat mereka senang dan bangga.

****

Janji.
Kadang kita berjanji sama orang yang belum tentu bisa kita tepatin.Ketika janji itu kita langgar atau gak kita tepatin,ngebuat orang yang udah kita janjiin kecewa dan mungkin juga marah sama kita.
Mungkin ketika kita membuat janji itu di saat pikiran kita sedang tidak rasional,jadi kita membuat janji yang tidak kita mampu,yang akhirnya membuat kita merasa sangat bersalah kepada orang tersebut.Semua orang tau kalimat ini
"Janganlah engkau berjanji ketika engkau tidak bisa menepatinya"
Tapi masih banyak juga orang yang ngelanggar janji tersebut.Ngebuat banyak orang kecewa ketika janji itu gak di tepatin dan rasanya luar biasa sakit,kecewa.Dan kita yang ngebuat janji kepada orang itu,kita juga ngerasa bersalah,kecewa sama diri sendiri.Tapi buat apa kecewa,toh apa yang kita tanam,itu yang akan kita petik.Itu resiko yang harus kita dapetin.
Kadang juga kita terlalu merasa bersalah,hidup dalam keadaan merasa bersalah itu gak enak banget,itu sama aja seperti ngebunuh diri secara perlahan.Bikin stres aja.Masih banyak hal yang mesti kita pikirin buat hidup kita.Kadang kita tidak pernah mikirin perasan orang tua kita kecewa sama kita,tapi lebih milih perasaan orang lain yang kita buat kecewa.Semakin kita dewasa harusnya kita mikirin orang tua,bukan orang lain.Harusnya gitu.Tapi terkadang kita melenceng dan membengkok.
Kita gak punya waktu buat mempertahankan apa yang tidak kita miliki ,kita hanya bisa melihat yang terbaik yang kita miliki untuk hidup kita.
Kadang  terjebak dalam keadaan tersebut karena kita mungkin tidak bisa mengukur,mengukur apa yang seharusnya kita sanggup lakukan.

ketika seseorang terluka,mereka belajar untuk membenci
ketika seseorang melukai perasaan orang lain,mereka dibenci dan dipenuhi rasa bersalah
tapi dengan mengetahui rasa sakit itu,akan membuat seorang menjadi baik hati
rasa sakit membuat seseorang tumbuh
dan bagaimana kau tumbuh,itu terserah padamu

***
Apaan yang gue tulis yah?
kok rada error gitu ya.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...