Skip to main content

Hasil Perbincangan dengan Seorang Teman

Gue sempat terhenyak oleh pembicaraan gue bersama teman gue tadi kemaren siang.

Kita itu bentuk dari lingkungan kita, kepribadian kita itu terbentuk oleh lingkungan kita.Kita bisa menilai lingkungan kita itu jika kita sejenak keluar dari lingkungan kita. Apa yang sebenarnya yang kita jalani di lingkungan itu.

Terkadang kita terjebak karena kita terhanyut oleh situasi lingkungan kita. Kita tidak sadar,bahwa kita berada di lingkungan yang buruk. Kita berteman bukan saja untuk memperoleh kenyamanan,tetapi juga untuk buat kita lebih baik.Jika kita stuck disitu-situ aja,maka kita gak akan pernah mau-maju.

Terkadang kita emang kejebak oleh lingkungan yang buat kita senang, padahal orang-orang dalam lingkungan itu, entah peduli entah tidak ketika kita jatuh. Mereka hanya mementingkan ego aja. Jika salah satu teman kita dalam keadaaan "terjatuh" mereka tidak memperdulikan,seolah-olah tidak tahu, padahal sebenarnya tahu.Terkadang mereka berkata " kasian ya dia" tapi  "just talk no action".

Jika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari orang,mereka akan ngambek,mukanya jelek.kalau muka jelek,tambah jelek deh.:P

Mereka cenderung bermuka dua.Contohnyaaaa : Di depan si anu baik,tapi di belakang anu luar biasa ngejelek-jelekin.
Gue mengibaratkan si anu bukan bermaksud apa-apa,hanya contoh saja.

Tidak mau berkorban,baik itu perasaan maupun perbuatan.Contohnya perbuatan aja : Ketika menunggu seorang teman,ketika kita mau menunggu dia untuk pulang bersama,tapi ketika kita minta tunggu untuk pulang bersama,mereka gak mau. Karambia sekali mereka.

Mendekat saat butuh saja.Ketika mereka ada kepentingan,mereka mendekat.Ketika tidak butuh,mereka tidak akan dekat dengan kita.Ketika mereka dapat,mereka lupa mengucapkan terima kasih.Tidak Sopan.

Mereka tidak memperdulikan kita ketika kita berada di keadaan yang bukan emang sewajarnya.Mereka tidak mencoba merubah kita ke arah yang baik.Itu karena mereka tidak peduli dengan kita,tidak benar-benar peduli.

Mereka hanya memanfaatkan kepentingan pribadi mereka dengan memanfaatkan kelompok mereka.Mungkin saja kepentingan pribadi itu baik untuk kita,tapi ketika buruk,kita juga rugi.

Ini kutipan pelajaran dari perbincangan gue dengan teman gue kemaren siang.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...