Skip to main content

L.E.M.E.S

Gue udah beli buku Manusia Setengah Salmon,Raditya Dika.

Ini Covernya
Ini penulisnya
Bukunya Masih sangat banyak di Gramedia Sudirman Pekanbaru. Jadi gue gak mesti mesen dulu sewaktu buku so poconggg. Bukunya Raditya Dika sendiri udah gue baca sejak SMP dan sekarang gue udah kuliah semester 3. Kira-kira udah 6 tahun lebih.Gak terasa waktu cepat berlalu.

***

Sekarang lagi lemes banget.
Ini karena gue gak makan sayur.Gue orang yang sampai saat ini anti sayur.Tidak suka sayur.Gak doyan sayur.Sayuran apapun itu,gue gak suka.Karena ketidaksukaan gue dengan si sayur,gue jadi sering nahan-nahan "sampah" di tubuh gue.Gue malah sangat dianjurkan untuk makan sayur,demi sebuah kesehatan,tapi gue gak suka.Dan gue jarang mengkonsumsi sebuah cairan hijau bernama klorofil,satu takarannya dicampur dengan air putih dan air itupun menjadi hijau.Untung aja gue gak minum juga stomatanya daun,ketika mereka dipadukan dan gue minum dibawah sinar matahari,mungkin gue gak bernapas leewat hidung lagi.
Sampah-sampah ini keluar dari tubuh gue paling cepat 5 hari sekali.Sampah ini udah numpuk banget sehingga susah buat dibuang.Ketika akan ngebuang sampah ini,gue mesti ngumpulin seluruh tenaga gue supaya sampah ini keluar dengan mulus.Kegiatan nongkrong pun lama karena susah keluar karena terlalu padatnya sampah itu.Sampai-sampai lutut gue sakit karena nongkrongnya kelamaan.Untuk aja gue bisa berdiri,kalo gak,kan gak lucu.Gue gak kebayang saat gue selesai nongkrong,gue minta tolong di bantu buat berdiri,dalam keadaan belum memakai apapun.Dan ini emang gak lucu.
Kalau sampahnya padat banget dan susah keluarnya,gue ngeden dan mati,gak lucu.Di temukan seorang gadis tewas karena ngeden kelamaan di toliet rumahnya sendiri.Gue gak mau terkenal gara-gara yang kayak gitu.Gak lucu.

Males banget kalo hitu,butuh saran selain makan sayur.Gue sering makan buah,buah salak,jambu biji.

Comments

  1. annyeong haseyo...
    pertama baca judulnya, tak kira kamu lemes gara-gara baca bukunya Dika :D
    haduh, kok nggak makan sayur sih sar. tapi kalo emang nggak bisa, banyakin minum jus aja... kalo enggak, coba bikin smoothies, sayur + buah diblender. :) hidup sehat!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...