Skip to main content

Ya Udah

Dalam kondisi hidung gue meleleh ini,gue pengen nulis di blog gue,banyak yang udah nyemangatin gue belakangan ini,terima kasih banyak ya.

Gue sempat pernah pengen nutup blog gue ini,tapi karena udah sharing sama beberapa temen gue,dan akhirnya gue gak jadi nutup blog gue.Awalnya sih gue pengen mencoba berbagi cerita gue,yang mungkin dikala gue susah,gue jarang bersyukur,ketika gue dalam keadaan kecewa,gue selalu terpuruk dalam keadaan sedih dan sakit hati,Ketika gue senang,gue juga bagi ke blog gue ini.Apa yang gue rasain,gue tulis,karena gue pengen gue didengar,walaupun dalam sebuah tulisan yang mungkin gak ada nilai apa-apa,tapi inilah yang gue senangin.Dan alhamdulillah ya,sesuatu,ada yang dengar.Terima kasih. Gue memulai blog ini udah 3 tahun yang lalu,memulainya dalam keadaan yang sangat bersemangat dan sekarang gue harus mencoba bersemangat.Mencoba mulai dari apa yang gue buat di awal blog gue ini.

Sekarang,bau jigong gue udah bisa ngenet.udah bisa liat timeline orang-orang penghuni duania maya,apapun itu lewat hp gue tentunya. Dan gue beberapa hari yang lalu,gue dikasih tau senior gue di kampus,bang @akuanakbatak alias bang Mustafa Hussein Lubis kalo kami lulus beasiswa tanoto foundation.Alhamdulillah.Perjuangan dan doa gue selama ini dikabulkan ,terima kasih ya Allah .

Gue udah susah percaya sama orang,gak ada yang gue percaya sekarang.Kecewa,kecewa,kecewa,sedih ,sedih,sedih ,gue ulangin kata-kata it berulang - ulang sampe gak ada artinya lagi.

Dengan sekesainya postingan ini,gue akan mencoba bersemangat lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...