Skip to main content

Angkat tanganmu Untuk Indonesia

Yeah,gue ngeblog lagi nih.Gue semanagt buat nulis lagi.setelah nulis di blog gue yang ini .Klik aja ya.Baca dan mari kita renungkan.semoga kita beisa berubah.

Tadi pagi gue sama temen gue risya,anak komunikasi UI,nyusup ke acara Rossy goes to campus INDONESIA TANGGUH. Gue seneng banget,acaranya nginspirasi banget buat gue ngelanjutin nulis di blog gue yang lain.Apalagi twit gue dibacain sama si tante Rosiana Silalahi untuk sang pak gubernur.alhamdulillah.
Semakin terbuka pikiran gue buat cinta Indonesia.

Angkat tanganmu untuk Indonesia
Assalamualaikum, gue Ree, si pembela negri
(HAHAHA)
Skarang elo ketawa karena elo nggak ngerti.
Negri kita sring diserang sama lawakan satir, orang Indonesia ngaco yang nyela tanah air, antara mereka bego atau nggak bisa mikir…
(Ih kasaaar)
(Eh itu bukan kasar, itu namanya nyindir)
Masak tumpah darah kita nggak membuat lo bangga?
Kapan trakhir kali lo berbuat baik untuk negara maka..

Lets trade war stories.
I remember my granpa told me, dua bulan berjuang di hutan tanpa pamrih.
Demi semua yang dia cintai, demi anak cucunya di suatu saat nanti.
Melihat burung Garuda terbang diangkasa dan bendera merah putih terus berjaya, so…
Trima kasih buat semua pahlawanku yang kadang terlupakan so semua lambaikan…

Apakah beritanya di dalam duniamu, bukan mau ngaku ngaku paling Indonesia karna yang paling adalah seberapa tulus hatimu mau membahasakan, jiwa hingga raga beridentitas.
Kita semua tahu cinta bukan diatas kertas. Tapi diatas bantal, alas kepala diatas akal, dialasi budi pekerti bangsa yo ayo kita..

Tumbuhkanlah kembali cinta di hatimu, yang kan kau persembahkan untuk negerimu.
Biarkanlah cintamu kan harumkan bangsa. Kembali bersinarlah zamrud khatulistiwa

angkat tanganmu untuk INDONESIA

Ini lagu dari album merdesa pandji yang gue sedikit ngerubah liriknya .Lagunya Untuk Indonesia. Ada 31 versi.Gila banyak banget.
Slamat pagi.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...