Skip to main content

Ladies Futsal !

Gue kembali !!!!
Sekali lagi gue udah mulai kurang sibuk nih,1 kepanitian selesai,yes !
Trus di kampus gue juga ada ladies Futsal,
Jangan cuma nonton aja,mari turun kelapangan wanita juga bisa !
Nama tim gue sosiologi forever disingkat sos-ver.hahaha. Ladies futsal ini diadain sama anak-anak komunikasi kampus gue yang sekretariatnya bersebelahan dengan sekre sosiologi. Jurusan ini dekat dengan sosiologi,nggak tau kenapa,dari yang gue lihat jurusan gue,sosiologi, sering main sama komunikasi,dari pacarnya anak ikom.atau ilmu komunikasi.

Ladies Futsal ini lucu banget,yang main cewek,sekaligus hiburan buat teman-teman fisip. Kadang bola nya udah dapet,tapi entah lari kemana,nggak kena, ada yang main asal tendang,lucu banget. Tadi sih wasitnya asshole,3 kali tim anak HI pelanggaran,tapi mata wasit ntah kemana jadinya nggak pelanggaran.

Dan tadi sore gue nggak turun main kelapangan,gue turun sebagai pemberi semangat,dan ternyata kami kalah dari anak HI, nggak jauh sih ,cuma 2-0.hahahha.Dan buat main selanjutnya gue main.Doakan ya cemans-cemans

Semoga pertandingannya nggak rusuh seperti pemira universitas,nggak ada yang memprovokasi,hahaha.
dan semoga kami menang  



Anyway, udahan dulu gue posting yang ini,tentang futsal ini gue tulis lagi kayaknya.Tunggu cerita-cerita gue yang lain ya .Jangan bosan cemans-cemans

Comments

Popular posts from this blog

Teori Sosiologi Dan Cinta

Saya tak sengaja terdampar kuliah di jurusan ini. Saya sudah melalui empat semester  di sosiologi UR alias Universitas Riau . Jatuh bangun sama IP sudah saya rasakan, banyak tugas yang sudah saya kerjakan (biasa aja sih sebenernya tugasnya, agak di dramatisir aja) sudah 2 orang senior yang jadiin saya responden (nah di bagian ini sebenernya gak suka, begitu bermasalahkah diri saya sehingga harus diteliti,oke, positif aja, mungkin saya unik. hehehe) . Kalau dipikir-pikir (kali ini saya tumben mikir) sosiologi itu mempelajari semuanya loh, bukan hanya agama, perkotaan, pedesaan, kesehatan, lingkungan, hukum, tapi juga hal yang paling absurd di dunia ini yang bernama CINTA . Iya, cinta. Harusnya mahasiswa sosiologi tidak ada yang jomblo karena ada beberapa teori yang mengaitkan tentang ini. Tidak ada yang ngemis-ngemis cinta atau miskin cinta atau bahkan fakir asmara.  PDKT alias PENDEKATAN itu bisa jadi terinspirasi dari teori kakek sosiolog yang mungkin beliau ter...

Mencoba Menemukan Ketenangan di Tengah Riuhnya Kehidupan

Hidup itu seperti berada di atas papan selancar, terkadang ombaknya tenang, terkadang menggulung-gulung seperti monster raksasa. Dan jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir, rasanya saya lebih sering terhempas ombak daripada berdiri gagah di atasnya. Cemas? Oh, cemas itu sudah seperti teman lama yang tak diundang datang setiap hari. Mood buruk? Rasanya seperti awan hitam yang terus menempel di kepala, bahkan saat cuaca cerah. Bayangkan saja, saya, yang dulu penuh semangat menjalani hari-hari, tiba-tiba merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasa saya cintai. Olahraga? Sudah seperti cinta lama yang tak berbalas. Buku? Seakan huruf-huruf di dalamnya berubah menjadi semut-semut yang berlarian tanpa arah. Bahkan serial drama Korea yang biasanya menjadi sahabat setia saat malam datang, kini hanya menjadi tontonan latar belakang saat pikiran saya melayang entah ke mana. Hidup saya, meskipun penuh potensi, kadang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk. Saya berusaha sebaik mungkin untu...

Towards The Light

Pagi menjelang, dan alarm berbunyi dengan suara yang sama. Saya membuka mata, tetapi rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Setiap hari terasa seperti pengulangan yang sama, itu hanya sebuah tanda bahwa saya masih melanjutkan hidup. Hari-hari berlalu, dan saya merasa terjebak dalam rutinitas yang tak kunjung berubah. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan yang berat, dan saya seperti penonton dalam film yang tidak berujung, menjalani momen yang itu-itu saja tanpa perkembangan. Ketidakpuasan ini membuat saya merasa kosong. Seperti banyak orang, saya berusaha menemukan cara untuk tumbuh, tetapi saat ini, satu-satunya ruang untuk berkembang adalah melalui kembali ke bangku sekolah—sebuah pelarian kecil dari kenyataan yang menyedihkan. Dalam kesibukan itu, saya merindukan kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan di mana saya berusaha untuk hidup sepenuhnya, bukan hanya bertahan. Saya bukannya tidak bahagia, tetapi aku juga tidak merasa bahagia. Saya teringat saat-saat ketika saya...