Gue pernah berdoa kepada Tuhan, untuk kerja di Jakarta. Doanya spesifik. Alasan gue murni karier. Eksposur lebih luas, networking lebih banyak, skala permainan lebih besar. Kalau doa itu proposal, latar belakangnya jelas, tujuannya terukur, dan nggak ada satu pun poin tentang “menemukan jati diri”. Dan doa itu dikabulkan. Sebenarnya Jakarta bukan kota baru buat gue. Gue tahu lima kilometer bisa lebih lama dari lima belas kilometer. Gue tahu trotoar Jakarta suka berhenti tiba-tiba, kayak hubungan tanpa kejelasan. Gue juga tahu orang sini jalan kaki dengan kecepatan seolah-olah dikejar deadline langsung dari Yang Maha Kuasa. Bedanya, dulu gue numpang lewat. Sekarang gue datang bawa rencana, kerja lebih baik, belajar lebih banyak, ketemu lebih banyak orang. Terus suatu malam, lagi rebahan scroll di HP, kepikiran kapan terakhir kali gue olahraga. Ternyata, gue ingat kalau olahraga yang bener itu sekitar dua tahun lalu. Dulu gue hampir setiap hari olahraga. Setahun gue cuma seped...
Gue baru wisuda S2 kurang dari sebulan , hahaha. Akhirnya lulus juga tepat waktu. Rasanya kayak selesai dengerin album Britpop obscure yang cuma 12 orang di dunia yang pernah dengar , terus selesai lagunya … hening . Di kepala gue cuma ada satu pertanyaan , “ Udah selesai ? Terus sekarang gue diapain ?” S2 itu bikin gue terbiasa hidup dengan ritme , kerja , baca jurnal , nulis tugas , debat teori , revisi , revisi literature. Sekarang ? Gue bangun tidur , kerja , ngantor , buka laptop kantor , dan ngerasa kayak lagi jadi cameo di hidup orang lain. Kalau kata riset , S2 itu bikin kita , “ Lebih siap menghadapi dunia profesional .” Iya , siap menghadapi beban kerja orang lain.Karena setelah lulus,dunia nyata gak ngasih silabus , bos gak bikin rubrik penilaian 0 –100, d an networking itu gak kayak tutorial YouTube yang step by step. Yang lebih ngeselin lagi , otak gue masih kecanduan produktivitas palsu , kayak n yari...