Tentang Obrolan yang Tidak Mencari Kesimpulan
Seperti yang gue tulis pada tulisan gue sebelumnya , tahun 2025, gue pengin menulis tentang orang-orang yang, tanpa pernah tahu, menemani hidup gue di dua tahun terakhir yang cukup kacau. Bukan orang-orang yang menyelamatkan gue, bukan juga yang memberi jawaban atas hidup yang berantakan. Lebih ke mereka yang hadir sebagai suara latar, mengisi kekosongan tanpa mengganggu, dan bikin hari-hari tetap bisa dijalani meski kepala sering ribut sendiri. Di antara mereka ada Raditya Dika, yang sudah gue tulis di sini , dan Iqbaal Ramadhan, lewat obrolan-obrolan podcast yang menemani fase hidup gue yang lagi tidak teratur. Tulisan ini bukan ucapan terima kasih yang besar atau sentimental. Ini cuma catatan kecil tentang kehadiran yang nggak berisik. Gue dengerin podcast yang ada dia bukan karena pengin belajar sesuatu. Dan bukan juga karena berharap dapat pencerahan hidup. Gue dengerin karena obrolannya.Di podcast itu, nggak ada usaha buat terdengar pintar. Nggak ada niat buat mengarahkan pen...