Posts

Tentang Obrolan yang Tidak Mencari Kesimpulan

Seperti yang gue tulis pada tulisan gue sebelumnya , tahun 2025, gue pengin menulis tentang orang-orang yang, tanpa pernah tahu, menemani hidup gue di dua tahun terakhir yang cukup kacau. Bukan orang-orang yang menyelamatkan gue, bukan juga yang memberi jawaban atas hidup yang berantakan. Lebih ke mereka yang hadir sebagai suara latar, mengisi kekosongan tanpa mengganggu, dan bikin hari-hari tetap bisa dijalani meski kepala sering ribut sendiri. Di antara mereka ada Raditya Dika, yang sudah gue tulis di sini , dan Iqbaal Ramadhan, lewat obrolan-obrolan podcast yang menemani fase hidup gue yang lagi tidak teratur. Tulisan ini bukan ucapan terima kasih yang besar atau sentimental. Ini cuma catatan kecil tentang kehadiran yang nggak berisik. Gue dengerin podcast yang ada dia bukan karena pengin belajar sesuatu. Dan bukan juga karena berharap dapat pencerahan hidup. Gue dengerin karena obrolannya.Di podcast itu, nggak ada usaha buat terdengar pintar. Nggak ada niat buat mengarahkan pen...

Menulis Blog, Menjadi Introvert, dan Pekerjaan Pertama

Jadi menyambut tahun 2026, gue pengin nulis lagi. Tentang orang-orang yang sadar atau nggak, pernah nemenin hidup gue berjalan sejauh ini, khususnya sepanjang tahun 2025. Bukan untuk mengingat masa sulitnya. Tapi untuk menandai bahwa gue masih di sini. Masih jalan. Dan sejauh ini, masih baik-baik saja. ------------------------------------------------------------------------------ Tentang membaca blog orang lain, menulis tanpa niat jadi penulis, dan bagaimana sebuah tulisan sederhana membuka jalan hidup. Ada fase hidup di mana menulis bukan soal ingin jadi penulis. Buat gue, menulis waktu itu cuma cara paling tenang buat mikir. Itu pun karena gue tipe orang yang kalau kebanyakan ngomong, malah makin nggak jelas arah pikirannya. Waktu itu gue banyak baca blog. Salah satunya blog Raditya Dika . Jujur, gue lupa pertama kali bisa nyasar ke sana dari mana. Mungkin dari Google. Atau mungkin karena internet zaman dulu memang suka mempertemukan orang dengan hal-hal random tanpa alasan yang jela...

Fenomena Post-Graduation Blues

Gue baru wisuda S2 kurang dari sebulan , hahaha. Akhirnya lulus juga tepat  waktu. Rasanya kayak selesai dengerin album Britpop obscure yang cuma 12 orang di dunia yang pernah dengar , terus selesai lagunya … hening . Di kepala gue cuma ada satu pertanyaan , “ Udah selesai ? Terus sekarang gue diapain ?” S2 itu bikin gue terbiasa hidup dengan ritme , kerja , baca jurnal , nulis tugas , debat teori , revisi , revisi literature. Sekarang ? Gue bangun tidur , kerja , ngantor , buka laptop kantor , dan ngerasa kayak lagi jadi cameo di hidup orang lain. Kalau kata riset , S2 itu bikin kita , “ Lebih siap menghadapi dunia profesional .” Iya , siap menghadapi beban kerja orang lain.Karena setelah lulus,dunia nyata gak ngasih silabus , bos gak bikin rubrik penilaian 0 –100, d an networking itu gak kayak tutorial YouTube yang step by step. Yang lebih ngeselin lagi , otak gue masih kecanduan produktivitas palsu , kayak n yari...

Tentang Kehilangan yang Tidak Pernah Selesai

“I miss you in waves. And tonight, I’m drowning.” Ada malam-malam di mana kalimat itu tak hanya terasa puitis, tapi real.  Malam ketika sunyi menjadi terlalu riuh, dan yang sudah tiada terasa paling hadir.  Dia yang dulu tahu isi kepala kita sebelum kita sempat mengucap. Yang tahu suara tawa kita dan juga diam-diamnya luka yang tak pernah kita akui.  Yang mengerti, bahkan ketika kita tak menjelaskan apa pun. Lalu dia pergi dan dunia tak lagi terasa utuh.  Waktu gak selalu nyembuhin.  Orang bilang, waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi siapa yang bisa benar-benar mengukur itu? Kadang waktu hanya memberi jeda.  Menambahkan jarak.  Membuat kita terbiasa menjalani hari… tanpa kehadiran yang dulu kita anggap akan selalu ada. Kalau lo sampai di tulisan ini karena sedang menahan luka semacam itu, g ue gak akan bilang “sabar ya,".  Gue gak akan pakai kata “ikhlas” sebagai obat serba guna. Karena gue tahu, ada kehilangan yang terlalu pribadi untuk dibing...

For Gusti, I Honor the Grief

A personal ode to Gusti Irwan Wibowo, a stranger I never met, but someone who once helped me stay alive in absurd and sacred ways. Gue gak nyangka bisa sesedih ini sama seseorang yang bahkan belum pernah gue temui. Like…this is a first for me. Biasanya kehilangan tuh tentang orang yang gue kenal, yang pernah gue peluk, yang pernah gue ngobrolin masa depan bareng. Tapi ini beda. Gusti Irwan Wibowo, lo tuh stranger yang rasanya lebih familiar daripada temen kantor gue sendiri. I found you by accident. Or maybe life led me to you on purpose, pas gue lagi di titik hidup yang honestly… berat. Gue denger lo di podcast absurd,  di lagu-lagu yang endikup. Ngomong lo yang kayak bocah dan lucu. Hei Chavaaaa!! “Diculik Cinta” i tu lagu dangdut pertama yang pernah gue replay di hidup gue.  Not ironically.  Gue dengerin karena gue butuh itu.  Butuh ketawa yang gak palsu.  Butuh lucu yang gak ngerendahin.  Butuh rasa, tanpa drama. Beberapa waktu lalu, gue bilang ke diri ...

Ketawa Dulu, Overthinking Nanti

Belakangan ini, hidup rasanya kayak timeline medsos yang nggak ada matinya. Ada aja kabar kehilangan: teman dekat, teman lama, kenalan yang muncul setahun sekali di feed, tiba-tiba hilang, artis. Setiap ada notifikasi berita duka, rasanya makin lama makin absurd. Lah, hidup kok bisa kayak main Uno bareng takdir, ya? Baru mau teriak “Uno!”, eh… ketiban +4 dari langit. Sumpah, universe ini kayak bercanda. Gelap banget lagi bercandanya. Orang bilang kehilangan itu bagian dari hidup. Gampang ya ngomongnya. Prakteknya? Mau ngebanting HP rasanya...ke kasur dong, soalnya kalo ke lantai… aduh, sayang. Kalau ada kabar kehilangan, orang-orang biasanya rame bilang, “Sabar ya, waktu bakal nyembuhin.” Lah iya, waktu sih lewat, tapi nyembuhin belum tentu. Yang ada, waktu malah nambahin tagihan listrik, bikin punggung makin bungkuk, sama ngingetin gue bahwa rambut ini makin tipis pelan-pelan. Sumpah, gue kadang liat kaca aja pengen ketawa sendiri, “Hah, kamu siapa?” Lucunya, di tengah semua kehilanga...

Hari-Hari yang Terasa Kosong Tapi Tetap Jalan

Sudah tiga hari gue ngerasa hampa. Rasanya kosong banget. Kemarin lusa, gue bahkan udah masuk kerja, kerja dengan serius, pengin cepat-cepat pulang, dan rasanya overwhelmed banget. Tapi entah kenapa, walau gue ngerasa kosong begini, gue tetap bangun. Gue tetap kerja. Tetap makan. Dan walau kecil, gue rasa itu butuh sebuah keberanian. Gue gak tahu kenapa. Tapi gue ngerasa kosong banget jadi manusia beberapa hari ini. Setiap kali kayak gini, gue selalu menghela napas panjang, mencoba nulis apa yang gue rasain. Kadang gue tulis kayak cerita, tapi malah bikin gue makin lesu. Gak tahu mau ngapain. Gue cuma pengin baring. Baca cerita-cerita gue yang udah gue tulis. Gue juga lagi gak sedih. Tapi juga gak bahagia. Gue bahkan gak pengen buka media sosial. Gak pengen lihat Instagram, TikTok, atau YouTube. Gue kayak kehilangan arah. Seperti gak punya tujuan. Hidup gue diem, tapi waktu jalan terus. Tadi malam sebelum tidur, gue coba bersih-bersih ka...